Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts

Monday, 21 July 2014

Konsep Menuntut Ilmu (Bahagian Dua)

Konsep Menuntut Ilmu
Di antara ibadah yang agung dan utama adalah menuntut ilmu. Sesungguhnya menuntut ilmu merupakan di antara amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama. Seorang hamba dapat mendekatkan diri dengan amalan tersebut kepada Rabbnya, dan termasuk ketaatan yang paling baik yang akan mengangkat kedudukan seorang muslim dan meninggikan derajatnya di sisi Allah Ta'ala.

Konsep menuntut ilmu yang akan dijelaskan dalam bab ini merangkumi hukum, adab-adab, ganjaran, anjuran keluar atau usaha dalam menuntut ilmu, ilmu yang bermanfaat dan kepentingan menuntut ilmu.

2.3.1 hhHukum Menuntut Ilmu
Setelah kita memahami makna ilmu dan berbagai macam pembagiannya, perlu pula kita mengetahui hukum menuntutnya. Mempelajari hukum sesuatu sangat penting, kerana berakibat baik atau buruk bagi setiap mukallaf yang melakukan perbuatan atau meninggalkannya.[1] Hukum menuntut ilmu dapat disimpulkan seperti berikut:

2.3.1.1 Menuntut ilmu Syari’at Islam

1)                Menuntut ilmu syar’i yang berkenaan dengan kewajipan menjalankan ibadah bagi setiap mukallaf seperti tauhid dan yang berhubungan dengan ibadah sehari-hari contohnya wudhu’, salat, dan lainnya, maka hukumnya fardhu ‘ain, kerana syarat ibadah diterima harus ikhlas dan sesuai dengan Sunnah, tentunya cara memperolehinya disesuaikan dengan kemampuan.

Menuntut ilmu syar’i ini, tidak semuanya harus dipelajari segera dalam masa yang sama, kerana ada amal ibadah yang diwajibkan untuk orang yang mampu saja, seperti mengeluarkan zakat, haji, dan lainnya.

2)    Menuntut ilmu syar’i yang hukumnya fardhu kifayah; maksudnya tidak setiap orang Muslim harus menguasainya, tetapi diwajibkan bagi ahlinya seperti membahas ilmu usul dan furu’nya dan juga yang berkenaan dengan ijtihadiyyah.

2.3.1.2 Menuntut Ilmu Duniawi

1)    Hukumnya tidaklah wajib ‘ain untuk setiap kaum muslimin, kerana tidak ada dalil yang mewajibkannya, dan kerana istilah ilmu di dalam nas Al-Qur’an dan Sunnah apabila mutlak maka yang dimaksudkan adalah ilmu syari’at Islam, bukan ilmu duniawi.
2)       Kadang kala hukumnya jatuh kepada wajib kifayah pada masa tertentu, seperti ketika memasuki medan pertempuran dan lainnya.

3)             Jika ilmu itu menuju kepada kejahatan maka haram menuntutnya.

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Adapun ilmu selain syar’i boleh jadi sebagai wasilah menuju kepada kebaikan atau jalan menuju kepada kejahatan, maka hukumnya sesuai dengan jalan yang menuju kepadanya”.

2.3.2 Kepentingan Menuntut Ilmu

Islam juga amat menggalakkan umatnya menuntut pengetahuan walau dengan apa jua cara dan keadaan sekalipun. Tiada satu agama atau ajaran di dunia ini sejak dahulu hingga sekarang yang dapat menandingi Islam dari segi pengutamaan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan apabila wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasullah s.a.w yang menitikberatkan ilmu pengetahuan. Firman Allah s.w.t:

            Terjemahannya:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (sekelian makhluk). Ia telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Yang mengajarkan (menulis) dengan pena. Yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tiada diketahuinya".                                                                              
                                                       Surah Al-‘Alaq (96): 1-5

Kesimpulan yang dapat dirumuskan daripada ayat ini ialah Allah s.w.t memerintah manusia membaca yang membawa proses pengenalan, pengamatan, pengingatan dan pemikiran (ransangan akal). Allah s.w.t juga memerintah manusia supaya berfikir tentang kejadian alam yang mana segala tanda-tanda yang ada pada kejadian alam adalah sumber ilmu pengetahuan.[2]

Ilmu pengetahuan dikaitkan dengan Islam kerana Islam adalah agama yang mementingkan ilmu pengetahuan malah Islam mewajibkan supaya umatnya menuntut ilmu. Antara dalil-dalil yang menekankan kewajipan menuntut ilmu:
            a)         Kewajipan Bagi Setiap Muslim agar Menuntut Ilmu.

             Sabda Rasulullah s.a.w:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Maksudnya,

“Menuntut ilmu menjadi kewajipan ke atas setiap umat Islam".[3]


            b)         Iri Hati Terhadap Penuntut Ilmu

Rasulullah s.a.w tidak pernah memotivasi seseorang untuk iri terhadap orang lain yang memperoleh nikmat Allah kecuali dalam beberapa perkara diantaranya; seseorang yang menuntut ilmu dan mengamalkannya. Rasulullah s.a.w bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا.
            Maksudnya:
"Tidak ada hasad (iri) kecuali dalam dua perkara: seseorang yang Allah limpahkan harta kepadanya lalu orang tersebut menghabiskan seluruh hartanya dalam kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah kemudian dia mengamalkan dan mengajarkannya."[4]


1.3.3                                Adab-Adab Menuntut Ilmu
Terdapat pelbagai adab-adab seorang penuntut ilmu terhadap gurunya, diantaranya:

2.3.3.1   Mengikhlaskan Niat untuk Allah s.w.t.

Sepertimana amalan-amalan yang lain, langkah yang pertama adalah keikhlasan diri. Langkah ini merupakan faktor yang amat penting sehinggakan Rasulullah telah memberi amaran, yang membawa maksud, “Sesiapa yang mempelajari satu ilmu yang sepatutnya dilakukan kerana mencari Wajah Allah, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada Hari Kiamat.” [5]

2.3.3.2 Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

Terjemahannya:
“Allah telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.”                                                                           
                                                                   An- Nahl (16):78.
2.3.3.3 Bermaksud Membela Syariat

Kitab-kitab yang ada tidak mungkin dapat membela syariat dengan sendirinya. Tidak ada yang mampu membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya jika didatangi dengan ahli bid’ah, kita dapat membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu diperlukan para ulama untuk membela agama.

2.3.3.4 Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf

Hendaklah berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad.

Menjadi satu kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaklah yang satu mengajak saudaranya untuk berbincang dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari keredhaan Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebahagian orang akan lenyap, bahkan ia akan jadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Allah s.w.t. melarang di dalam firmanNya:

Terjemahannya:
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
                                                                    al-Anfaal (8): 46.

2.3.3.5 Beramal Dengan Ilmu

Menjadi kemestian bagi penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik dari segi akidah, ibadah, akhlaq, adab, mahupun muamalah. Sebab amal ini adalah buah ilmu, seorang yang menyimpan ilmu dan tidak mengamalkannya adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justeru untuk membinasakannya.

2.3.3.6 Berdakwah di Jalan Allah

Menyeru kepada agama Allah s.w.t., berdakwah pada setiap kesempatan sama ada di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Tidak harus seorang penuntut ilmu hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang diinginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.

2.3.3.7 Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Menghiasi diri dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman,

Terjemahannya:
“Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.”                                                                                                                    
                                                              Al-Baqarah (1): 269.  

Dimaksudkan dengan hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah s.w.t, dan berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini nescaya akan tercapai kebaikan yang banyak.

2.3.3.8 Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Sabar, istiqamah serta tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan adalah penting dalam menuntut ilmu. Justeru itu, hendaklah terus konsisten belajar sesuai kemampuan dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu kerana apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu nescaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

2.3.3.9 Menghormati Ulama dan Meletakkan Mereka Sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajipan bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan meletakkan mereka sesuai pada kedudukannya, dan melapangkan dada-dada dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan seharusnya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru. Ini penting kerana ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tidak sesuai kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang.

2.3.3.10  Berpegang Teguh Dengan Al-Quran dan As- Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu berpegang teguh dan mempelajari dari pokok-pokoknya, iaitu Al-Quran Al-Karim sebagai landasan seluruh ilmu dan Al-Sunnah sebagai sumber kedua bagi menjelaskan isi kandung al-Quran.

2.3.3 Galakkan Keluar Menuntut Ilmu

Galakkan berusaha mencari ilmu sudah tertera lama di dalam Al-Quran, Malah Al-Quran telah mewajibkan orang yang tidak mengetahui agar mempelajari ilmu. Firman Allah s.w.t:

Terjemahannya:
“Maka hendaklah kamu bertanya dengan mereka yang pakar, kiranya kamu tidak mengetahui”.
                                                                      Al-Nahl (16):43

Selanjutnya, Rasullullah s.a.w. pula menambahkan motivasi mencari ilmu dengan sabdanya yang bermaksud, “Sesiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berjuang fi sabilillah sehinggalah ia kembali”.[6]
Di samping berusaha dengan tekun menuntut ilmu, Al-Quran menyarankan agar manusia berdoa dengan firmanNya:

Terjemahannya:
“Dan berdoalah dengan berkata, wahai Tuhanku, tambahlah ilmuku”.                                              Taha (20):114.

1.3.4                             Ganjaran Menuntut Ilmu

Allah s.w.t. menawarkan pelbagai ganjaran pada hambaNya menuntut ilmu kerana mengharapkan keredhaan Allah s.w.t, terdapat pelbaagi hadis baginda Rasulullah s.a.w tentang ganjarannya, diantaranya, Baginda bersabda:
مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ 
Terjemahannya:
“Tidak seorang pun yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, kecuali para malaikat membentangkan sayap untuknya kerana redha atas apa yang di lakukan”[7]

Ilmu pengetahuan juga dikaitkan dengan ibadah kerana menuntut ilmu merupakan ibadah yang diberi ganjaran oleh Allah s.w.t. Banyak dalil dari hadis yang menceritakan tentang kelebihan menuntut ilmu antaranya:

a)   Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا
 إِلَى اْلجَنَّةِ

Maksudnya:

“Barangsiapa yang memudahkan satu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkannya satu jalan menuju ke Syurga".[8]

b)   Sabda Rasulullah s.a.w.:
اَلعِلْمُ خَزَائِِنُ مَفَاتِيْحُهَا السُّؤَالُ أَلاَ فَاسْأَلُوْا فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيْهِ أَرْبَعَةٌ السَّاِئلُ وَالعَالِمُ وَاْلمُسْتَمِعُ وَاْلمُحِبُّ لَهُمْ

Maksudnya:

"Ilmu itu ibarat gudang dan anak kuncinya adalah pertanyaan, dari itu bertanyalah! Sesungguhnya setiap kali ada yang bertanya, ada empat golongan yang diberi pahala iaitu: yang bertanya, yang ditanya, yang mendengar dan yang menyintai mereka."[9]

c)   Sabda Rasulullah s.a.w.:
ِلأَنْ تَغْدُوْ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ العِلْمِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ
Maksudnya:
"Sekiranya anda keluar ada waktu pagi untuk mempelajari satu bab dari ilmu adalah lebih baik daripada anda solat 100 rakaat".[10]

1.3.5                             Menuntut Ilmu Yang Bermanfaat

Di dalam Al-Qur-an terkadang Allah s.w.t. menyebutkan ilmu pada kedudukan yang terpuji, iaitu ilmu yang bermanfaat dan terkadang pula Dia menyebutkan ilmu pada kedudukan yang tercela, iaitu ilmu yang tidak bermanfaat.

Firman Allah s.w.t. tentang ilmu yang bermanfaat sebagaimana dalam kisah Adam dan pelajaran yang diperolehi dari Allah tentang nama-nama segala sesuatu, dan memberitahukannya kepada para Malaikat. Para Malaikat pun berkata di dalam Al-Qur’an, firman Allah s.w.t:

Terjemahannya:
“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” 
                                                                                                                                                                                                       Al-Baqarah (1): 32

Dan firman Allah Ta’ala mengenai kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidhir. Nabi Musa berkata kepadanya. Dalam firman Allah s.w.t.:
Terjemahannya:
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”                                                                                                                                                                                                                        Al-Kahfi (18): 66


Pada satu sudut yang lain, Allah s.w.t. mengambarkan keadaan suatu kaum yang diberikan ilmu, namun ilmu yang ada pada mereka tidak bermanfaat. Pada hakikatnya ilmu tersebut bermanfaat, namun pemiliknya tidak mengambil manfaat dari ilmunya itu. Allah s.w.t berfirman:

Terjemahannya:
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”            
                                                                                       Al-Jumu’ah(62): 5
Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya,

Terjemahannya:

      "Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, nescaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.”
                       Al-Baqarah (1): 102

Oleh itu, As-Sunnah membahagi ilmu menjadi dua iaitu ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat, juga menganjurkan untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dan memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat.[11]

Syeikhul Islam, Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah s.a.w, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedoktoran, ilmu kira, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.” 
                                                                                                                         
Imam Ibnu Rajab (wafat tahun 795 H) rahimahullah mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat terbahagi kepada dua hal:

Pertama, mengenal Allah s.w.t dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakkal kepada Allah serta redha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah s.w.t. berikan.

Kedua, mengetahui segala apa yang diredhai dan dicintai s.w.t. dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan batin serta ucapan. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diredhai Allah s.w.t dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.  Bilamana  ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah s.w.t, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia.”[12]

Imam Mujahid bin Jabr (wafat tahun 104 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat derhaka kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya banyak.”[13]

Perkataan beliau rahimahullah menunjukkan bahwa ada orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut kerana tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah s.w.t.

2.4 Kisah Dan Pandangan Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Para ulama memadukan ilmu, amal, zikir, akal dan hati. Keadaan tersebut nampak jelas dalam contoh kehidupan para ulama kita yang terdahulu, seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’e dan Imam Bukhari.

Al-Hakam bin Hisyam Al-Tsaqafi mengatakan, “Orang menceritakan padaku di negeri Syam, cerita tentang Abu Hanifah, bahawa belaiu merupakan seorang pemegang amanah yang terbesar. Sultan mahu mengangkatnya menjadi pemegang kunci gudang Negara atau memukulnya kalau dia menolak. Maka Abu Hanifah memilih siksaannya daripada siksaan Allah Ta’ala.[14]

 Al- Rabi mengatakan: “Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an, misalnya dalam bulan Ramadhan enam puluh kali dan semuanya itu dalam Solat.”[15] Imam Bukhari menyatakan: “Aku tidak menulis hadis dalam kitab Shahih kecuali aku telah mandi sebelum itu dan telah solat dua rakaat”.[16]

Bukan saja dalam ilmu agama, ulama kita yang berwibawa telah mewariskan pelbagai karya yang sehingga kini masih lagi kita rasa manfaatnya. Dalam bidang pengetahuan umum pula, Al- Khawarizmi, bapa Matematik, misalnya dengan gagasan Aljabarnya telah mempengaruhi perkembangan ilmu matematik. Tanpa pemikiran Al-Khawarizmi, tanpa sumbangan angka-angka Arab, maka sistem penulisan dalam matematik merupakan sebuah kesulitan. Sebelum memakai angka-angka Arab, dunia barat bersandar pada sistem angka Romawi. Bilangan 3838 misalnya, jika ditulis dengan sistem desimal atau angka Arab, hanya memerlukan empat angka sahaja. Namun, jika ditulis dengan angka Romawi, maka diperlukan tiga belas angka iaitu, MMMDCCCXLVIII.

1.4                                Kesimpulan

Daripada tajuk yang dihuraikan, penulis dapat membuat kesimpulan bahawa ilmu itu sangat penting dalam kehidupan dan setiap manusia sangat memerlukannya bagi mencapai kesejahteraan di dunia mahupun di akhirat. Konsep ilmu itu sendiri amat luas dan mendalam ianya terbahagi beberapa cabang dan sebagai manusia kita harus bijak membezakan ilmu mana yang bermanfaat sekaligus menjauhi daripada ilmu yang boleh memudharatkan.

Selain menjelaskan hakikat ilmu, penulis juga turut menyelitkan konsep menuntut ilmu dengan lebih teliti berdasarkan dalil- dalil yang menyokong. Dari itu, penulis menyedari bahawa pentingnya pelajar-pelajar Islam memahami dan mempraktikkan konsep menuntut ilmu ini agar sentiasa berada di landasan ilmu yang benar. Dengan keadaan dunia yang semakin menekan umat Islam, mereka bukan sahaja harus menguasai ilmu agama tetapi mereka juga harus menggabungkan dan menguasai kebanyakan ilmu bagi membela agama Islam.

Dengan mengaplikasikan konsep ilmu yang sebenar, kita mampu melahirkan ulama- ulama Islam yang berwawasan. Ini semua tidak akan tercapai melainkan pelajar-pelajar Islam bersikap prihatin dalam konsep menuntut ilmu, justeru itu, penting bagi para pelajar mengikut jejak langkah para ulama yang terdahulu dalam perjuangan menuntut ilmu.



[2] Ibid
[3] Imam Ibn Majah. Kitab Sunan Ibn Majah. kitab al- Muqadimmah. Bab Fadhl al- ‘Ulama’ wa Al-Hath ‘ala talab Al-‘Ilmi. No.Hadis. 220.
[4] Imam Bukhari. Kitab Shahih bukhari. Kitab al- ‘Ilmu. Bab al-Ightibaat fi al-‘Ilmu wa al-Hikmah.Hadis no.71.
[5] Maksud hadis riwayat Ibn Hibban dan ia dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam semakannya ke atas Sahih Ibn Hibban.1997. Muassasah al-Risalah. Bairut. Hadis No: 78.
[6] Imam Tirmidzi. Kitab Sunan Tirmidzi. Kitab Al-‘Ilmu ‘An Rasulullah.Bab Fadlul tholobu al-‘Ilmu. Hadis. No. 2571.
[7] Diriwayatkan Ibn Majah. Kitab Sunan Ibn Majah. Kitab Al-Muqadimmah. Bab Fadl al-‘Ulama wa al-Hath ‘ala talabi al-‘Ilmi. Hadis No. 222.
[8] Diriwayatkan Abu Daud. Kitab Sunan Abi Daud. Kitab Al-‘Ilmu. Bab al- Hath ‘ala talabi al-‘Ilmu. Hadis.No. 3157. 
[9] Diriwayatkan oleh Abu Na’im dari Ali R.A. Hadis Marfu’.
[10] Diriwayatkan Ibn Abdul Barri dari abi Dzarr, Hadis dari Ibnu Majah dari lafaz yang lain.
[11]Imam Ibn Rajab rahimahullaah, ta’liq dan takhrij Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali Abdul Hamid. 1406H. kitab FadhIlmi Salaf ‘alal Khalaf . Cet. Pertama. Daar ‘Ammar. Hlm. 11-13.
[12] Ibid. Hlm.47.
[13] Abi al- Fida’ al-Hafidz Ibnu Kathir Ad-Damsyiqi. 1996. Al-Bidaayah wan Nihaayah. Jil. 4. Cet. Pertama. Bairut: Darul Fikr. Hlm.237.
[14] Imam Al-Ghazali. 1980. Ihya Ulumiddin.  Jil Satu. Indonesia: Percetakan Menara kudus. Hlm. 56.
[15] Ibid, Hlmn: 108.
[16] Imam al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. 2000. Fath al- Bari; Syarh Sahih al-Bukhari. Juz Satu. Cet. Ketiga.Bairut: Darul Kutub al-Ilmiah. Hlm.4.

Konsep Menuntut Ilmu (Bahagian Satu)

 Pendahuluan
 Menurut ajaran Islam, menuntut ilmu adalah satu dari ibadah yang terpuji yang membawa seseorang ke Syurga. Bagaimanapun, matlamat di sebalik menuntut ilmu itu lebih penting dari ilmu itu sendiri. Ketulusan menuntut ilmu dengan matlamat ketuhanan, untuk keredhaan Allah dan berbakti kepada makhlukNya.

 Maka dari itu, pemahaman bagi konsep menuntut ilmu merupakan perkara yang penting kerana ia merupakan aset yang sangat berguna dalam kehidupan. Kemuliaan seseorang terletak pada ketinggian ilmunya. Malah Allah s.w.t. mengangkat darjat bagi siapa yang menuntut ilmu sebagaimana firmanNya:

Terjemahannya:
“Allah mengangkat beberapa darjat orang-orang yang beriman dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan”
                                                          Al-Mujaadilah (58): 11
Oleh yang demikian, di dalam bab dua ini, penulis akan menghuraikan definisi konsep menuntut ilmu serta cabangnya agar dapat memahami konsep ini dengan lebih jelas. Penulis juga akan menerangkan dengan lebih lanjut dan mendalam lagi tentang kedudukan dan fungsi memahami konsep menuntut ilmu.

2.2 Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu secara bahasa adalah lawan dari perkataan bodoh. Seseorang yang berilmu dikatakan ‘aalim atau ‘aliim; suatu kaum disebut ulama’.[1] Ia berasal dari Bahasa Arab yang bererti mengetahui atau perbuatan yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu perkara dengan sebenar. Dalam Bahasa Inggeris ilmu selalunya disebut sebagai ‘Sciences’.[2] Ilmu dan pengetahuan (knowledge) sebenarnya mempunyai makna yang sama walaupun dari segi penggunaannya kadang-kadang berbeza.

Ilmu juga merujuk kepada kefahaman manusia terhadap sesuatu perkara, yang mana ia merupakan kefahaman yang sistematik dan diusahakan secara sedar. Pada umumnya, ilmu mempunyai potensi untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia. Biasanya, ilmu adalah hasil daripada kajian terhadap sesuatu perkara. Dalam hal ini, ilmu sendiri juga boleh menjadi sasaran kajian dan menghasilkan apa yang dikenali sebagai "ilmu mengenai ilmu", yakni epistemologi.[3]

Ilmu dari segi Istilah: Segala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah s.w.t yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya dan alam ciptaanNya termasuk manusia yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah.

Dalam zaman moden ini, pengertian ilmu telah disempitkan dan dimodenkan kepada pengetahuan maklumat dan kemahiran sahaja. Dalam pengertian barat moden, ilmu hanyalah merujuk kepada pengenalan atau persepsi yang jelas tentang fakta. Fakta pula merujuk pada objek penelaahan ilmu mencakupi seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia dan bersifat empiris.[4] Kewujudan perkara lain di luar keupayaan pancaindera tersebut dianggap bukan fakta dan tidak termasuk dalam bidang ilmu. Mengikut pandangan mereka secara automatik ajaran agama terkeluar daripada ruang lingkup ilmu dan dianggap sebagai kepercayaan semata-mata.

Adapun Islam telah menghimpun antara agama dan ilmu. Tidak ada sebarang penentangan antara agama dan ilmu kerana dalam Islam, agama itu sendiri adalah ilmu dan ilmu adalah agama. Ilmu menurut perspektif Islam dikenali sebagai sifat, proses dan hasil. Manakala istilah ilmu dalam Islam merangkumi pelbagai perkara iaitu Al-Quran, syariah, sunnah, iman, ilmu kerohanian, hikmah, makrifat, pemikiran, sains dan pendidikan.


2.2.1 Konsep Ilmu
Dalam Ihyâ ‘Ulûm ad-Dĩn, Imam Al Ghazali mengungkapkan tentang konsep ilmu. Menurutnya, ilmu terbahagi kepada dua bahagian, iaitu:
1.                  Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah wajib. Setiap orang wajib mendalami ilmu-ilmu tersebut yakni fardhu ‘ain.
2.               Imu-ilmu yang berkaitan dengan umum, misalnya: ilmu kedoktoran, ilmu sosiologi, ilmu komputer, dan lain-lain. Tidak semua orang wajib mempelajari ilmu-ilmu tersebut dan hanya beberapa orang saja sudah memadai. Ia juga disebut sebagai fardhu Kifayah.


2.2.2 Tujuan Ilmu Pengetahuan
Tujuan ilmu pengetahuan terbahagi kepada dua, iaitu ilmu pengetahuan murni (pure Science) dan ilmu pengetahuan terapan (applied science). Tujuan ilmu pengetahuan terapan adalah pengawalan, perencanaan dan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualiti hidup manusia.

Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan murni (pure science), dapat dilihat daripada dua sudut iaitu secara psikologi dan kepuasan. Secara psikologi, tujuan ilmu pengetahuan murni adalah mencari kebenaran dan kepuasaan akal untuk menjangka sesuatu kejadian. Manakala secara kepuasan pula, ia merupakan kepuasaan artistik seperti menyelesaikan sesuatu masalah pelik di dalam sesuatu teori yang sangat besar dan mendalam.[5] 


2.2.3 Keutamaan Ilmu pengetahuan          
Sejarah telah membuktikan bahawa kemajuan sesuatu bangsa adalah berkait-rapat dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terdapat pada sesuatu bangsa. Ini kerana ilmu akan mengangkat darjat seseorang atau sesuatu bangsa itu ke arah kemuliaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Di antara kepentingan-kepentingan ilmu yang dapat dijelaskan di sini adalah:

            2.2.3.1 Ilmu Adalah Warisan Para Nabi
Adapun para Nabi tidak mewariskan dinar mahupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu tersebut maka sungguh ia telah mengambil bahagian yang banyak dari warisan para Nabi. Hal tersebut termasuk keutamaan yang paling besar.[6]

            2.2.3.2 Ilmu Membentuk Peribadi yang Mulia
Ilmu dapat membentuk keperibadian yang baik dan menjadikan seseorang itu bertaqwa dan cintakan Allah s.w.t dan RasulNya. Firman Allah dalam al-Quran:
                       
            Terjemahannya:
"Sesungguhnya yang takutkan Allah daripada hambanya ialah orang-orang yang berilmu, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.                                  
                                                                     Faathir (35): 28.

            2.2.3.3 Ilmu Sifatnya Kekal
Ilmu tidak seperti harta yang akan musnah. Dalam sebuah hadis s.a.w. bersabda, "Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara yaitu: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendo'akannya."[7]

            2.2.3.4 Mengangkat Darjat Seseorang
Ilmu dapat mengangkat seseorang lebih tinggi disisi Allah s.w.t. dan membezakan taraf di kalangan manusia. Firman Allah:
Terjemahannya:
“Katakanlah adakah sama orang-orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya mereka yang mendapat peringatan dan petunjuk hanyalah di kalangan hambanya yang berilmu dan bijaksana".                                                                                                                                                                                      Al-Zumar (39): 9

            2.2.3.5 Melaksanakan Ibadah
Dengan ilmu manusia dapat menjalankan tugas ibadah (ibadah umum atau ibadah khusus) dan dapat melaksanakan peranan sebagai khalifah Allah di muka bumi.[8]

2.2.4 Klasifikasi Ilmu
Ilmu telah diklasifikasikan kepada tiga bahagian iaitu berdasarkan topik, hukum dan juga hubungkait ilmu dengan syariat dan bukan syariat.

2.2.4.1 Berdasarkan Topik

Al-Kindi merupakan filsuf Muslim pertama yang menyajikan klasifikasi ilmu berdasarkan topik, yang kemudian diikuti oleh al-Farabi dalam bukunya Ihsa al-Ulum (daftar ilmu-ilmu). Dalam buku Science and Civilization in Islam, Dr Syed Hossein Nasr meringkaskan klasifikasi al-Farabi tersebut sebagai berikut:

1.      Ilmu bahasa
2.      Ilmu logik
3.      Ilmu-ilmu pendahuluan
4.       Ilmu fisik (ilmu alam)
5.      Metafisik (ilmu wujud)

Sesudah al-Farabi, Ibn Sina di dalam bukunya The Book of Healing and Treatise menyajikan suatu klasifikasi ilmu intelektual kemudian Fakhr Al-Din al-Razi  dalam The Book Of Sixty Sciences dan banyak lagi pemikir lainnya mengemukakan klasifikasi-klasifikasi ilmu, tapi mereka boleh diketepikan kerana tidak banyak berbeza dengan al -Farabi. Klasifikasi mengenai ilmu-ilmu yang di pelajari di dunia Islam telah di ringkaskan oleh Dr Syed Hossien Nasr sebagai berikut:

1.      Ilmu-ilmu falsafah dan intelektual.
2.      Ilmu-ilmu yang diturunkan (dapat dipelajari melalui penyampaian, dalam hal ilmu-ilmu agama. Rantai penyampaiannya dimulai dari asal mula wahyu).

Dalam persidangan sedunia II mengenai pendidikan Islam, yang dibiayai oleh King Abdul Aziz University, Jeddah dan Quaid I Azam University, Islamabad dan dilangsungkan di Islamabad pada bulan Mac 1980  telah disetujui klasifikasi ilmu sebagai berikut:

1.      Pengetahuan tentang yang kekal abadi; Al-Quran, Sunnah Nabi, riwayat hidup Nabi dan sebagainya.
2.      Pengetahuan perolehan;
a)      Seni imaginasi
b)      Ilmu-ilmu intelektual; ilmu-ilmu sosial, filsafat dan lainnya.
c)      Ilmu-ilmu fisik
d)     Ilmu-ilmu terapan
e)      Ilmu-ilmu praktikal[9]

2.2.4.2 Berdasarkan Hukum

Bagi para ulama dahulu, ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua hal yang berbeza. Oleh kerana itu, usaha al-Imam Ghazali dalam mengklasifikasi ilmu perlu diperhatikan secara lebih terperinci. Dalam kitab Ihyâ ‘Ulûm ad-Dĩn, beliau mengklafikasikan ilmu menjadi dua bahagian: Fardhu ‘Ain dan dan Fardhu Kifayah.[10]

i)        Ilmu Fardhu ‘Ain: iaitu kewajipan yang dituntut ke atas setiap umat Islam yang baligh dan berakal supaya mengetahui dan mempelajarinya bagi memenuhi tuntutan agama. Contoh: Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah wajib atau kepercayaan (Aqidah). Ilmu Fardhu Ain ialah ilmu yang berkaitan dengan perkara yang berupa kepercayaan dan perbuatan yang mesti dilakukan atau ditinggalkan.

ii)      Ilmu Fardhu Kifayah: Kewajipan yang dituntut ke atas seluruh masyarakat Islam. Sekiranya ada seorang yang mengetahui ilmu tersebut maka gugur dosa ke atas umat Islam. Ilmu fardhu kifayah adalah sangat luas ruang lingkupnya. Contohnya: ilmu kedoktoran, pengurusan, teknologi dan sebagainya. Segala ilmu yang diperlukan oleh umat manusia, maka menuntutnya pun wajib ke atas mereka kerana ilmu-ilmu tersebut terlalu banyak dan terlalu luas bidangnya. Kewajipan tersebut diserahkan kepada seluruh umat Islam secara bergotong-royong atau pembahagian tugas di antara mereka.[11]

2.2.4.3 Berdasarkan Hubungkait Dengan Syariat dan Bukan Syariat

Dari segi hubungannya dengan syariat, ia terbahagi kepada empat iaitu; Ilmu Usul iaitu ilmu yang asas tentang al-Quran, sunnah, ijma' atau peninggalan sahabat. Ilmu Furu’ iaitu ilmu yang diluaskan daripada Ilmu usul contohnya; fiqh, faraid dan sebagainya.

 Ilmu muqaddimah atau pengantar iaitu ilmu yang berupa alat untuk memahami al-Quran dan sunnah. Contohnya; belajar mengenal huruf jawi atau tulisan arab. Akhir sekali ilmu penyempurnaan iaitu Ilmu yang bertujuan untuk menyempurnakan lagi ilmu al-Quran dan al-hadith. Contohnya; ilmu tajwid, tafsir dan sebagainya.

Ilmu bukan syariat pula terbahagi kepada dua iaitu ilmu yang terpuji sama seperti ilmu fardhu kifayah. Contohnya; matematik, sains, ekonomi, pertanian dan sebagainya. Seterusnya ilmu yang tercela iaitu ilmu yang boleh mendatangkan kemudharatan dan perpecahan malah mendapat kebencian Allah seperti ilmu sihir, silap mata, ilmu menipu dan sebagainya.[12]

2.2.5 Metode Mendapatkan Ilmu
Dalam tulisan- tulisan Ibn al-Haitham dapat disimpulkan bahawa metode mendapatkan ilmu ialah melalui dua proses, induktif dan deduktif. Metode induktif merangkumi:

a)      Pengamatan.
b)      Generalisasi, rumusan suatu prinsip umum dalam sesuatu bentuk hipotesis.
c)      Pencubaan.

Metode deduktif pula, mencakupi:
a)      Verifikasi berdasarkan percubaan dari konsekuensi-konsekuensi hipotesis.
b)      Penafsiran fakta-fakta lain berdasarkan hipotesis.[13]

Di dalam Islam juga, pencarian pengetahuan oleh seseorang bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, tetapi harus, dan dianggap sebagai kewajipan bagi setiap Muslim yang bertanggungjawab. Di antara metode lain untuk mendapatkan ilmu adalah seperti berikut:[14]
1.                     Wahyu

Wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada seorang hamba yang dipilih di kalangan hambaNya dengan secara sulit dan rahsia berlainan dari apa yang dialami oleh manusia biasa. Tidak dapat dinafikan lagi wahyu adalah merupakan sumber pengetahuan yang terpenting yang telah disampaikan oleh Allah kepada manusia sama ada ianya disampaikan melalui Nabi Muhammad s.a.w atau melalui nabi-nabi yang terdahulu. Wahyu merupakan teras kepada segala ilmu kerana di dalam al-Quran terkandung pelbagai jenis ilmu pengetahuan yang amat diperlukan oleh manusia untuk kemaslahatan hidup, juga perkara-perkara ghaib yang tidak dijangkau oleh akal manusia.

2.      Pancaindera
Semua pancaindera seperti sentuhan, hiduan, penglihatan, pendengaran dan deria rasa merupakan sumber pengetahuan yang utama dan amat berguna bagi manusia untuk berinteraksi dengan alam sekelilingnya dengan mudah dan betul. Kelima-lima pancaindera merupakan satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui beberapa percubaan dan pengalaman yang berulang-ulang. Bagaimanapun kebenaran yang diperolehi tidak semestinya selalu betul dan tepat. Umpamanya matahari kelihatan kecil oleh mata sedangkan kenyataannya adalah sebaliknya.

3.      Akal
Akal adalah merupakan sumber utama pengetahuan manusia. Malah perbezaan antara manusia dan haiwan adalah melalui hasil tamadun yang diusahakan oleh manusia berpunca dari pemikiran akal manusia yang kreatif. Dengan akal manusia dapat menimbang dan membezakan antara yang baik dan buruk walaupun mungkin ianya tidak bersifat kebenaran mutlak, namun memadai untuk mengatasi masalah kehidupan seharian. Bagaimanapun Allah menyuruh manusia menggunakan semaksima mungkin kedua-dua daya akal dan pancaindera yang dianugerahkan kepadanya agar dapat sampai kepada pengetahuan sahih dan kebenaran yang tidak menyesatkan.

            4. Intuisi atau Ilham.
Intuisi atau ilham juga boleh menjadi sumber pengetahuan manusia yang amat berguna. Ianya merupakan pengetahuan yang diperolehi tanpa melalui proses pemikiran yang tertentu. Contohnya seseorang yang mempunyai masalah yang sedang menumpukan pemikirannya terhadap penyelesaian masalah tersebut, tiba-tiba menjadi jalan penyelesaian tanpa perlu berfikir panjang seolah-olah kebenaran yang dicari datang sendiri. Di dalam Islam ilham ini boleh dikenali dengan istilah "firasat" atau pun pandangan bashirah (tembus) yang dikurniakan oleh Allah kepada para ulama.[15]




[1] Ibn Manzur, Imam al-A’lamat Abi al-Fadhil Jamalddin Muhammad b. Mukriz Ibn Manzur. 2000. Lisân al- ‘Arab. Jil. 12. Cet. Pertama.Bairut: Darul Sadir. Hlm. 417.
[2] Della Summer. 2008. Longman; Active Study Dictionary Fourthteenth Impression Edition. Edinburgh: Pearson Education Limited. Hlm. 663.
[3] Dari Wikipedia Bahasa Melayu, Ensiklopedia Bebas. http://ms.wikipedia.org/wiki/Ilmu. 12 Oktober 2009. 10.40mlm
[4] Jujun S. Suriasumantri. 1997. Ilmu Dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Cet. Ketigabelas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm.5.
[5] Reza A.A Wattimena. 2005. Filsafat & Sains; Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit PT Grasindo. Hlm.110-111.
[6] Diriwayatkan Ibn Majah. Kitab Sunan Ibn Majah. Kitab Al-Muqadimmah. Bab Fadhl al- ‘Ulama’ wa Al-Hath ‘ala talab Al-‘Ilmi. Hadis No.219.
[7] Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Kitab Shahih Al-Targhib wa Tarhib. Kitab Al-‘Ilmu. Bab Al-Targib fi al-‘ilm wa talabih. Hadis No. 78.                                                                                                        
[9] Qadir C.A. 2002. Filsafat & Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Edisi Kedua. Indonesia: Pustaka Obor Indonesia IKAPI.Hlm.114-117.
[10] Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas. 2006. Sungai Tak Bermuara; Risalah Konsep Ilmu dalam Islam: Sebuah Tinjauan Ihsani. Cet. Pertama. Jakarta: Penerbit Diwan. Hlm, 33.
[11] Imam al- Ghazali. 1980. Ihya Ulumiddin. Indonesia : Percetakan Menara Kudus. Hlm.84.
[12] Khazali Idris.Anjung Ilmu. http://khazalii.googlepages.com/udi30521konsepilmu. 11 Oktober.2009. 12:52 tghari.
[13] Qadir C.A. 2002. Filsafat & Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Edisi Kedua. Indonesia: Pustaka Obor Indonesia IKAPI. Hlm . 112.
[14] Wan Mohd. Nor Wan Daud. Ibn Ishaq’s Site. “Konsep Pengetahuan Dalam Islam”, http://ishacovic.multiply.com/journal. Oktober 2009. 1:42 Petang.
[15] Ibid.